Na Willa adalah pengalaman sinema yang sulit dilupakan — manis, menggelitik, dan diam-diam menusuk perasaan. Disutradarai Ryan Adriandhy (Jumbo) dan diadaptasi dari novel populer karya Reda Gaudiamo (2012), film ini hadir sebagai salah satu tontonan Lebaran 2026 yang paling layak untuk tidak dilewatkan.
Sutradara: Ryan Adriandhy | Produksi: Visinema Pictures | Durasi: 118 menit | Tayang: 18 Maret 2026
Masuk ke Isi Kepala Seorang Anak 5 Tahun

Penonton diajak mengikuti berbagai keseharian Na Willa — seorang anak perempuan yang tinggal di kawasan Gang Krembangan, Surabaya, di era 1960-an. Dan tepat itulah yang akan dirasakan sepanjang film: bukan sekadar menyaksikan, tapi benar-benar menjadi Na Willa.
Lewat film terbarunya ini, Ryan Adriandhy mengajak penonton memasuki isi kepala anak perempuan berusia 5 tahun — melihat dunia dari perspektifnya, menyelami imajinasinya, merasakan logikanya yang polos namun penuh warna. Pendekatan inilah yang membuat Na Willa terasa berbeda dari film keluarga kebanyakan.
Lebih dari Ekspektasi

Ketika Na Willa diumumkan akan diangkat ke layar lebar oleh Ryan Adriandhy, banyak yang sudah bisa membayangkan betapa magisnya film ini secara narasi dan visual. Tapi ternyata Ryan memberikan lebih dari sekadar ekspektasi tersebut.
Jika Reda Gaudiamo telah bercerita dengan sangat menyenangkan lewat bukunya, Ryan memindahkan medium itu ke sesuatu yang jauh lebih hidup. Rasanya seperti mendengarkan dongeng yang divisualisasikan secara ajaib — dari kacamata anak-anak yang mengajak penonton dewasa kembali ke masa kecil mereka. Dan di saat yang sama, bagi yang sudah punya anak, film ini diam-diam menjadi cermin: apa yang selama ini kita lakukan kepada anak, dari sisi si anak? Di beberapa adegan, cukup tersindir. Di beberapa lainnya, menangis haru.
Visual Ajaib, Production Design yang Believable

Karena film ini bertutur dari sudut pandang anak-anak yang imajinatif, visualnya penuh keajaiban — segar dan jauh dari klise. Dari visual membaca surat hingga perasaan-perasaan yang tak terucap lewat kata-kata, semuanya dihadirkan dalam bentuk yang fresh.
Production design-nya pun patut diapresiasi. Dunia era 60-an yang dibangun tim produksi terasa believable — bukan sekadar dekorasi nostalgia, tapi sebuah lingkungan yang hidup dan koheren, yang membuat penonton benar-benar merasa tenggelam di dalamnya.
Ensemble cast yang solid turut menopang kekuatan film ini. Luisa Adreena sebagai Na Willa tampil luar biasa — polos, menggemaskan, dan nyata. Para pemeran dewasa hingga pemeran pembantu pun memberikan nyawa di setiap adegannya.
Lagu “Sikilku Iso Muni” karya Laleilmanino bukan sekadar musik pengiring. Lagu ini memotret dengan jujur bagaimana anak kecil menghadapi situasi menyedihkan dengan cara yang tetap menyenangkan — sesuatu yang sering terlupakan oleh orang dewasa yang terlalu larut dalam kesedihan, alih-alih bersyukur dan menjadikannya pelajaran hidup.
RATING: 4,5/5
Fun Fact & Trivia
Beberapa fakta menarik di balik layar film ini:
- Ini adalah debut live-action Ryan Adriandhy setelah Jumbo — film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa sekaligus animasi dengan pendapatan tertinggi di Asia Tenggara.
- Tim produksi menyediakan area bermain (playground), menetapkan jadwal tidur siang, dan menetapkan zona bebas rokok di seluruh lokasi syuting demi kenyamanan para pemain anak-anak. A healthy workplace produces high-quality output — dan hasilnya terasa di layar.
- Saat Ryan menjelaskan panjang lebar soal teknik voice over kepada Luisa Adreena, sang pemeran utama cilik langsung memotong santai: “Maksud Om, VO?” — membuat Ryan terkejut sekaligus kagum.
- Film ini berlatar gang pinggiran Surabaya era 1960-an, dengan Na Willa sebagai anak dari ibu asal NTT dan ayah keturunan Tionghoa — representasi keberagaman yang setia pada buku aslinya.
- Novelnya merupakan buku pertama dari trilogi Na Willa karya Reda Gaudiamo.
Jangan Sampai Kehabisan Layar!
Dalam persaingan film Lebaran yang sengit, Na Willa mungkin bukan yang paling ramai diperbincangkan. Tapi justru itu yang mengkhawatirkan — jika kamu melewatkannya di hari-hari awal tayang, bukan tidak mungkin layarnya berkurang dan jam tayangnya menyusut.
Jangan biarkan itu terjadi. Na Willa adalah film yang relate untuk semua umur — tontonan yang bisa dinikmati bersama seluruh keluarga, dari anak-anak hingga orang tua. Segera tonton di bioskop bersama keluarga besar dan ponakan-ponakan tercinta.

