Abu Janda diusir dari talkshow iNews TV menjadi insiden yang mengguncang ekosistem diskusi publik Indonesia. Bukan sekadar momen viral, kejadian di program Rakyat Bersuara ini mengungkap tiga krisis sekaligus: krisis kurasi narasumber, krisis etika debat, dan krisis tanggung jawab media televisi nasional.
1. Rekonstruksi Insiden Abu Janda di iNews TV
Program diskusi Rakyat Bersuara di iNews TV, dipandu Aiman Witjaksono selaku moderator sekaligus Pemimpin Redaksi, mengangkat tema “Perang AS-Israel vs Iran Meluas, Kita Harus Bagaimana?” pada Selasa, 10 Maret 2026.
Forum ini menghadirkan narasumber dengan kredensial terverifikasi:
| Narasumber | Latar Belakang |
|---|---|
| Feri Amsari | Pakar Hukum Tata Negara, dosen tetap FH Universitas Andalas |
| Prof. Ikrar Nusa Bhakti | Mantan Duta Besar Indonesia untuk Tunisia |
| Boni Hargens | Pengamat Politik |
| Prof. Ferry Latuhihin | Pakar Ekonomi |
| Ulta Levenia | Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden |
| Abu Janda (Permadi Arya) | Figur media sosial, mantan buzzer politik |
Apa Pemicu Ketegangan?
Ketegangan bermula ketika Abu Janda menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki peran besar terhadap kemerdekaan Indonesia. Prof. Ikrar Nusa Bhakti meluruskan narasi sejarah tersebut dengan menekankan perlunya pemahaman berbasis data. Alih-alih merespons dengan argumen yang lebih kuat, Abu Janda menjawab:
“Daritadi gua perhatiin lu kalo komentar terlalu baper, jangan bawa-bawa perasaan pak.”
Situasi memuncak ketika ia berteriak ke arah narasumber lain dengan kalimat yang memuat makian — disiarkan langsung ke jutaan layar televisi di seluruh Indonesia.
Feri Amsari segera meminta moderator mengambil sikap tegas: “Ini ruang publik. Kalau ada kekasaran seperti itu, wajib hukumnya untuk mengusir dia.”
Aiman Witjaksono yang awalnya berusaha menengahi akhirnya bertindak: “Kalau Anda tidak bisa tertib, keluar!” — dan Abu Janda pun diusir dari forum.
2. Siapa Abu Janda? Profil dan Rekam Jejak
Memahami insiden ini secara adil dan faktual memerlukan pemahaman tentang latar belakang Permadi Arya, nama asli Abu Janda.
Latar Belakang Pendidikan dan Karir
- Lahir di Cianjur, Jawa Barat, 14 Desember 1973
- Diploma Ilmu Komputer — Informatics IT School, Singapura (1997)
- Sarjana Business and Finance — University of Wolverhampton, Inggris (1999)
- Karir profesional lebih dari satu dekade di perusahaan sekuritas, bank swasta, dan pertambangan batu bara
Ini bukan profil seseorang yang tidak berpendidikan. Justru itulah yang menjadikan insiden malam itu lebih menarik untuk dianalisis, bukan lebih mudah untuk dimaafkan.
Kontroversi yang Membentuk Pola
Abu Janda mengakui pernah menjadi buzzer politik pada Pemilu 2019. Sebelum insiden iNews TV, ia telah berkali-kali memicu kontroversi: sikapnya terhadap konflik Palestina, kasus “Islam Arogan” (2021), dugaan rasisme terhadap Natalius Pigai, dan berbagai pernyataan kontroversial lainnya.
Pola ini penting dicatat: insiden di iNews TV bukan anomali. Ini adalah konsistensi dari seorang figur publik yang telah berulang kali memilih provokasi sebagai strategi komunikasi utama.

3. Krisis Kompetensi vs. Krisis Karakter: Dua Masalah Berbeda
Analisis insiden ini perlu membedakan dua masalah yang hadir bersamaan:
Masalah Kompetensi
Feri Amsari meraih gelar Sarjana Hukum, Magister Hukum cum laude dari Universitas Andalas, dan Master of Laws dari William & Mary Law School, Virginia, Amerika Serikat — serta menjabat sebagai dosen tetap sejak 2004. Di seberangnya duduk mantan duta besar dengan karier diplomatik puluhan tahun.
Ketika seseorang dengan latar belakang teknologi informasi dan keuangan mendebat isu sejarah geopolitik berhadapan dengan akademisi dan diplomat senior, ada pertanyaan sah yang perlu dijawab: atas dasar kompetensi apa dan siapa yang bertanggung jawab atas keputusan kurasi narasumber ini?
Masalah Karakter
Abu Janda tidak membawa data sejarah yang lebih kuat untuk membantah Prof. Ikrar. Ia tidak menghadirkan analisis hukum internasional yang lebih komprehensif. Yang ia bawa adalah keyakinan yang tidak perlu dibuktikan — dan ketika keyakinan itu ditantang oleh yang jauh lebih kompeten, reaksinya adalah agresi verbal.
Ini bukan keberanian intelektual. Ini adalah ketidakamanan intelektual yang berpakaian seperti keberanian.
4. Etika Debat Publik yang Seharusnya
Ada standar yang tidak tertulis tapi dipahami bersama di setiap forum diskusi yang beradab — baik di jurnal ilmiah, seminar universitas, maupun program televisi:
- Kamu datang dengan argumen, bukan dengan volume suara
- Kamu mendengarkan untuk memahami, bukan untuk memotong
- Kamu menghormati keahlian orang lain bahkan ketika tidak setuju dengan kesimpulannya
Feri Amsari menegaskan bahwa diskusi publik seharusnya lebih mengedepankan adu data, analisis hukum, dan argumentasi berbasis fakta — bukan retorika atau provokasi.
Netizen pun menyimpulkannya dengan tepat: “Terima kasih, Bang Feri Amsari dan Bang Aiman Witjaksono, karena orang kaya gitu ga cocok dikasih panggung.”
Sikap tegas Aiman Witjaksono dan ketenangan Feri Amsari justru menjadi edukasi publik yang tidak ternilai tentang pentingnya etika debat dan kendali diri di ruang publik.
5. Tanggung Jawab Media Televisi
Satu pihak yang sering luput dari sorotan dalam insiden ini: siapa yang memutuskan mengundang Abu Janda ke forum tersebut sejak awal.
Pengamat media sekaligus dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Lukas S. Ispandriarno, menilai peristiwa ini mencerminkan kegagalan televisi dalam menjaga etika publik demi mengejar sensasionalisme:
“Televisi saat ini barangkali lebih terdorong untuk mengejar semacam sensasi. Sensasi yang menimbulkan kegaduhan, hal-hal yang kontroversial.”
Logika Bisnis yang Berbahaya
Ada logika yang mudah dipahami: konflik menghasilkan engagement → engagement menghasilkan rating → rating menghasilkan iklan. Tapi ada harga yang dibayar publik atas logika bisnis itu:
- Masyarakat terbiasa dengan standar diskusi yang semakin rendah
- Forum yang seharusnya mencerdaskan malah menormalkan kegaduhan
- Bagi pemirsa dengan tingkat pendidikan rendah, tayangan ini justru menjauhkan mereka dari etika diskusi yang sehat
Penyelenggara siaran wajib memfilter narasumber dan mengendalikan kondisi forum agar tidak menjadi arena konflik yang kontraproduktif.
6. Dampak dan Pelajaran dari Insiden Ini
Insiden Abu Janda di iNews TV adalah gejala dari tiga masalah yang saling berkaitan:
Pertama: Ekosistem media yang menginsentifkan sensasi di atas substansi — secara sistematis mengundang konflik ke dalam forum yang seharusnya menghadirkan pencerahan.
Kedua: Fenomena figur publik yang membangun pengaruh dari provokasi, bukan keahlian — dan kemudian mengklaim hak yang sama dengan akademisi yang membangun karier di atas riset dan argumen yang teruji.
Ketiga: Erosi pemahaman publik tentang standar diskusi yang beradab — sebuah erosi yang terjadi dalam akumulasi panjang dari tayangan yang mendahulukan kegaduhan di atas kejernihan.
Abu Janda adalah sosok yang kompleks. Latar belakang pendidikan dan profesionalnya nyata. Namun kompleksitas itu tidak menjadi pembenar untuk apa yang terjadi malam itu di studio iNews TV.
Satu-satunya cara untuk memastikan ini tidak berulang adalah dengan berhenti memberikan panggung kepada sensasi — dan mulai kembali menghargai substansi. Karena panggung itu dibangun bukan hanya oleh satu stasiun televisi, melainkan oleh setiap klik dan share yang kita berikan kepada konten yang merayakan kegaduhan.
Kesimpulan
Abu Janda diusir dari iNews TV bukan sekadar insiden viral. Ini adalah cermin dari ekosistem diskusi publik Indonesia yang perlu diperbaiki secara sistemik — mulai dari standar kurasi narasumber di media, hingga pemahaman publik tentang apa yang seharusnya terjadi di dalam forum debat yang beradab.
Yang terjadi malam itu sangat sederhana: seseorang tanpa kompetensi di bidang yang didiskusikan, merespons koreksi dari yang lebih kompeten dengan kekerasan verbal, di hadapan jutaan penonton Indonesia.
Kita semua ikut membangun panggung itu. Dan kita semua bisa memilih untuk berhenti.





